Web Hosting

Sabtu, 27 Desember 2008

GAS ELPIJI LANGKA

Gas langka bukan berarti jenis dari zat gas itu sendiri, tapi tabung gas untuk mengolah masakan rumah tangga kita yang hilang dari pasaran. Suatu hal yang sangat-sangat aneh, ketika pemerintah dengan program alih bahan bakar minyak tanah ke elpiji sudah berjalan dan diterima rakyat, sekarang jadi susah lagi karena langkanya di pasaran.

Pertamina sebagai pemasok paling utama, saya nilai tidak mampu menghandle dengan mantap masalah ini. Bukan menyalahkan, tapi sebagai institusi yang paling bertanggung jawab seharusnya mempunyai sistem yang tangguh untuk mengantisipasi masalah-masalah seperti ini. Pimpinan-pimpinan dan seluruh jajarannya mungkin harus ditatar ulang mengenai UUD '45 Pasal 33.

Saya melihat ada dua sebab kelangkaan dilihat dari kondisi saat ini, yaitu:
1) Menjelang pemilu, kemungkinan ada pihak atau oknum dengan kapital besar bermain menciptakan kelangkaan gas elpiji. Mereka sudah sangat tahu, elpiji sudah menjadi barang publik yang sangat vital, kelangkaanya akan menjadi preseden buruk buat pemerintah karena melambangkan ketidakbecusannya dalam menangani hajat hidup rakyat.

2) Harga gas elpiji yang per tabung ini ternyata mengikuti hukum pasar. Permintaannya sudah pasti banyak luar biasa (hampir seluruh kota besar) dan kuantitas terbatas, tentunya harga akan melambung naik karena kelangkaannya (scarcity). Di point ini berisi makhluk-makhluk ekonomi dengan mental kapitalis yang ganas sekali, tidak peduli orang banyak susah.

3) Masih berhubungan dengan point 2, prasangka buruknya adalah keadaan ini sengaja diciptakan oleh pemerintah sendiri atau pihak lain yang berelasi berhubungan untuk menaikkan harga elpiji. Ketimbang naik resmi bikin rusuh, sudah serahkan saja ke mekanisme pasar. Rakyat, nantinya juga bisa menciptakan daya adaptasi dan resistansinya sendiri.

Sekarang tinggal kepada pelakunya masing-masing, apa mau kembali kepada fitrahnya yaitu peduli pada orang banyak dan bukan duit semata. Buat pemerintah lewat pertamina, jangan cuma teriak-teriak suply cukup, tapi di lapangan rakyat sampai ngantri dari subuh buat beli elpiji tabung 3kg. Turun dong, jangan cuma duduk manis di singgasana. Bapak-bapak kita ini yang ciri tipikalnya kebanyakan dari clan ningrat, lulusan S2 bisnis luar negeri ternyata kalah praktek lapangannya sama tukang minyak keliling yang lulusan S bon-bon. Memalukan!

Bicara BBM sungguh asyik. 25 tahun lalu saya ingat betul harga 1 liter minyak tanah cuma Rp. 100,-, sekarang sudah mencapai Rp. 10.000,- per 1 liter. Ketika disubtitusi sama elpiji, tabung 3 kg dijual Rp. 13.000,- sekarang (28/1/08) harganya sudah Rp. 20.000,-. Kalau dihitung-hitung sejak kelangkaan sudah naik 54%. Ihhh sereeem banget Indonesia ini.....Akhirnya mertua saya kembali masak ke pola zaman purbakala...Pakai KAYU BAKAR!

Tidak ada komentar: